Faktor manusia berbuat dosa

 PERAN MANUSIA SYETAN DAN NAFSU DALAM PERBUATAN MAKSIAT.


Manusia adalah makhluk Allah yang memang tak luput dari salah dan juga dosa, karena pada dasarnya manusia adalah makhluk yang oleh allah dititipkan akal dan nafsu pada dirinya, oleh karena itu dia bisa berbuat baik, dan bisa juga untuk berbuat maksiat, dengan adanya fakta yang sedemikian, ketika manusia terjerumus dalam perbuatan dosa, allah dengan sifat rahmannya masih sayang kepadanya, dan memberi dia kesempatan untuk bertaubat, dan ketika dia menyambut kesempatan itu dengan baik dan kembali bertaubat, maka allah pasti akan menerima taubatnya, lalu bagaimana ketika dia kembali mengulangi dosa yang sama, bahkan sampai berkali kali, apakah allah masih menerima taubatnya? Ya..! sudah barang tentu allah menerima taubatnya, karena allah adalah dzat yang maha tawwab (berulang-ulang menerima taubat), dengan catatan taubat yang dilakukannya itu memang sungguhan, dalam artian ketika dia baru saja berbuat dosa seketika dia menyesal lalu beristighfar kepada allah diiringi tekad yang kuat untuk tidak mengulangi dosa yang telah iya perbuat. Dan rasulullah pernah bersabda: 

               كل بني أدم خطائون وخير الخطائين التوابون

Artinya: setiap keturunan nabi adam itu seringkali berbuat salah, dan sebaik-baiknya orang yang sering berbuat salah adalah orang yang selalu bertaubat.

Namun yang penting kita ketahui adalah, siapa sebenarnya yang berperan dalam perbuatan maksiat yang dilakukan oleh manusia? Karena dengan mengetahui hal itu kita bisa mencegah diri dari perbuatan maksiat. Sesungguhnya yang berperan dalam maksiat yang diperbuat manusia itu ada tiga, dan ketiga-tiganya itu kadar perannya tidaklah sama, bahkan berselisih.

Yang pertama adalah syetan, seringkali kita dengar dari mulut-mulut manusia bahwasannya ketika mereka berbuat dosa, pasti yang mereka salahkan adalah syetan, iya itu memang benar, tapi sejatinya sangatlah sedikit andil syetan dalam perbuatan maksiat yang dilakukan oleh manusia. Mungkin kalau dipersenkan hanyalah 10 % saja. Maksudnya bagaimana? Maksudnya adalah syetan hanya berperan dengan bisikannya pertama kali ketika terbesit dihati manusia untuk mengerjakan maksiat, setelah itu segeralah dia pergi darinya.

Yang kedua adalah nafsu, namun tidaklah semua nafsu itu jahat dan mengajak untuk melakukan maksiat. Karena pada dasarnya nafsu itu terbagi menjadi tiga. Pertama adaah nafsu ammarah bil-su’ (nafsu yang selalu mengajak manusia untuk mengerjakan keburukan), kedua adalah nafsu lawwamah, yakni jenis nafsu yang setelah kita berbuat maksiat hati kita merasa menyesal, itulah yang dikatakan nafsu lawwamah. Dan yang ketiga ialah nafsu muthmainnah, yakni nafsu yang menyebabkan manusia berbuat baik dan taat atas perintah allah karena percaya akan janji allah kelak di akhirat. Adapun yang menjadi pokok pembahasan sekarang adalah nafsu ammarah bil-su’, karena nafsu inilah yang berperan besar dalam perbuatan maksiat yang dilakukan oleh manusia, Yang mana bila dipersenkan mencapai 50 %, sebagaimana namanya ammarah yang dalam bahasa arab termasuk sighot mubalaghoh (bentuk kata yang memiliki arti banyak atau sering) maksudnya ammarah disini adalah nafsu yang sering atau sangat mengajak manusia untuk mengerjakan maksiat.

Dan yang ketiga atau yang terakhir adalah diri kita sendiri, jadi telah menjadi perkara yang lazim, dan tidak mungkin bisa kita pungkiri lagi bahwasannya diri manusia itu memiliki andil dalam perbuatan maksiat yang dikerjakannya, bagaimana tidak? karena dalam hal ini setiap manusia mensumbangsihkan dua komponennya, pertama hatinya, dan kedua anggota badannya, yang  peranannya juga cukup besar sebagaimana nafsu yaitu 50%. Dan bila kita simpulkan dan perturutkan mulai dari peran syetan nafsu dan manusia yaitu sebagai berikut, pertama, syetan hanya berperan dengan satu kali bisikannya agar manusia mengerjakan maksiat, berikutnya nafsulah yang mengulang-ngulang bisikan  syetan berulang-ulang kali, kemudian finalnya hanya tinggal keputusan manusia itu sendiri mau mengikuti bisikan nafsu atau malah mangabaikannya. Namun biasanya ketika kita dibujuk oleh syetan lalu kita masih memperturutinya dengan mendengarkan bisikan nafsu pastilah kita terjerumus dalam perbuatan maksiat tersebut, karena ajakan nafsu memanglah sangat kuat lebih kuat berkali-kali lipat dari pada ajakan syetan. Oleh karena itu ketika sejak pertama kali pintu hati kita diketuk oleh bisikan syetan, bersegeralah untuk tak menghiraukannya supaya tak ada cela bagi nafsu untuk merobek-robek dan mempengaruhinya.

Sekian coretan kecil dari al-faqir semoga bermanfaat.


Bangkalan, 30 September 2023

Zainal Abidin Jailani

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Diantara ketampanan nabi Muhammad SAW. dan nabi Yusuf As.

SYAFAAT ROSULULLOH, NABI MUHAMMAD SAW.

Peristiwa dibelahnya dada Rasulullah Saw.